Praktisi dari Mitsubishi Sidodadi Berlian Motor dan Dosen-dosen PVTM Univesitas Ivet

Pendidikan Vokasional Teknik Mesin Universitas IVET mengundang praktisi dari Mitsubishi Sidodadi Berlian Motor guna mempersiapkan diri dalam menyambut Kurikulum Merdeka-Merdeka Belajar. Pada kesempatan tersebut hadir Bpk. Sugiyanto sebagai praktisi yang memberikan berbagai masukan terkait penyusunan kurikulum di PVTM. Beliau menyampaikan jika sebagai program studi yang menciptakan tenaga pendidik bidang pendidikan vokasional teknik, perlu mempersiapkan calon pendidik yang memiliki kompetensi proporsional antara kemampuan teknis dalam bidangnya dan kemampuan dalam menyampaikan materi ajar yang mereka ampu. Menurut beliau banyak  kasus terjadi jika para guru yang sudah mengajar di SMK belum memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menyampaikan materi ajar, terutama pada kegiatan praktikum. Masalah yang kedua adalah perkembangan teknologi di industri belum dapat diikuti dengan baik oleh banyak sekolah kejuruan, akibatnya informasi yang di dapat siswa dari guru kurang sesuai dengan perkembangan teknologi yang terjadi di dunia industri, hal itu dapat diketahui saat para siswa SMK melakukan kegiatan magang atau praktik kerja industri.

Untuk mengatasi hal tersebut, setiap lembaga pendidikan kejuruan disarankan harus aktif menjalin kerjasama dengan berbagai industri yang sesuai dengan bidang keahlian, dari kerjasama tersebut kemungkinan industri untuk menyampaikan informasi tentang teknologi terbaru akan lebih mudah. Prosesnya dapat berupa pelatihan guru maupun magang bagi guru untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Dengan adanya pengetahuan dan keterampilan baru yang dimiliki oleh para guru tersebut memungkinkan bahan kajian sebagai dasar pengembangan kurikulum juga akan terupdate.

Sugiyanto juga menyatakan jika pendidikan tinggi pencetak calon tenaga pendidik di bidang vokasi merupakan sasaran yang tepat bagi industri untuk menyalurkan informasi-informasi terbaru, karena jika dibandingkan dengan guru yang sudah mengajar, mahasiswa cenderung akan lebih fleksibel dalam mengikuti proses pelatihan atau training, alasannya mahasiswa tidak terlalu banyak terikat oleh aturan sistem seperti orang bekerja, tidak seperti guru yang biasanya menemui banyak kendala dalam pelaksanaan training di industri.

Menurut Kepala Program Studi PVTM IVET Bayu Ariwibowo,M.Pd, kurikulum merdeka belajar sangat mendukung perkembangan mahasiswa pada ranah hard skills maupun soft skills, hal tersebut dikarenakan pada kurikulum Merdeka – Merdeka  Belajar memungkinkan mahasiswa untuk dapat menentukan sendiri jenis kegiatan yang akan diambil guna mengembangkan dirinya dengan jumlah SKS yang cukup besar yaitu dengan total 60 SKS . Jenis kegiatan yang ditawarkan di dalam merdeka belajar pun ada berbagai macam.  Kegiatan pembelajaran yang sangat cocok dipilih oleh mahasiswa PVTM sebagai calon pendidik yang pertama adalah pertukaran pelajar antar prodi (20 SKS), baik di dalam maupun di luar kampus yang nantinya dapat melengkapi kompetensi atau CPL yang belum ada di prodi asal mahasiswa, selanjutnya kegiatan Magang/Praktik di Industri yang memiliki bobot 20 SKS atau setara dengan 1 semester, serta Asistensi mengajar di sekolah yang juga memiliki bobot 20 SKS dan setara dengan 1 semester. Hasil dari kegiatan pembelajaran di lapangan tersebut selanjutnya dapat dikonversikan dengan mata kuliah tertentu. Beliau melanjutkan jika belajar dengan cara terjun langsung di lapangan akan memungkinkan mahasiswa memiliki pengalaman yang real, tidak hanya sekedar mempelajari banyak teori di kampus yang hanya mengarah ke ranah kognitif saja. Kemampuan yang di dapat dari kegiatan magang selama 1 semester dan asistensi mengajar di sekolah selama 1 semester dianggap akan membuat lulusan menjadi lebih siap mengahadapi dunia kerja terutama untuk menjadi pendidik di SMK.

Dalam kegiatan tersebut, Dekan Fakultas Saintek Universitas IVET Dr. Fuad Abdillah, S.T., M.T juga menambahkan jika Prodi Pendidikan Vokasional Teknik Mesin harus mampu menyusun kurikulum yang porsi vokasinya lebih besar, bahkan porsi praktikum juga harus lebih besar dibandingkan dengan teori, karena pada prinsipnya untuk mempersiapkan siswa yang kompeten dan terampil guru juga harus kompeten dan terampil. Beliau menambahkan “Langkah untuk membuat mahasiswa calon pendidik menjadi kompeten dan terampil itu bagaimana? Ya dengan cara menerjunkan mahasiswa tersebut pada kondisi yang real, di dunia usaha/industri yang relevan dan terpercaya minimal 1 semester, di tambah asistensi mengajar minimal 1 semester”, tutupnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *